Bahasa Pedia: sejarah
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Mei 2021

Makna Denotatif dan Konotatif



PENGERTIAN DIKSI

Diksi ialah pilihan kata. Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari. Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari dari kamus. Kamus memberikan suatu ketepatan kepada kita tentang pemakaian kata-kata. Dalam hal ini, makna kata yang tepatlah yang diperlukan.


Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik Lisan maupun tulisan. Di samping itu, pemilihan kata itu harus pula sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata-kata itu. 


MAKNA DENOTATIF DAN KONOTATIF

Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisite Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung  sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut makna konseptual. Kata makan, misalnya, bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut, dikunyah, dan ditelan Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif.

 

Makna konotatif adalah makna asosiatif, maha yang timbul sebagai akibat dari sikap Sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul.


Makna konotatif berbeda dari zaman ke zaman. la tidak tetap. Kata kamar kecil mengacu kepada kamar yang kecil (denotatif), tetapi kamar kecil berarti juga jamban (konotatif). Dalam hal ini, kita kadang-kadang lupa apakah suatu makna kata itu adalah makna denotatif atau konotatif


Kata rumah monyet mengandung makna konotatif Akan  tetapi, makna konotatif itu tidak dapat diganti dengan kata lain sebab nama lain untuk kata itu tidak ada yang tepat  Begitu juga dengan istilah rumah asap.


makna-makna konotatif sifatnya lebih profesionai dan operasional daripada makna denotatif. Makna denotatif adalah  makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi  tertentu.


Misalnya:

rumah             gedung, wisma; graha 

penonton         pemirsa, pemerhati 

dibuat              dirakit, disulap  

sesuai              harmonis 

tukang             ahli, juru 

pembantu        asisten 

pekerja            pegawai, karyawan  

tengah             madia  

bunting            hamil, mengandung 

mati                 meninggal, wafat 


Makna konotatif dan makna denotatif berhubungan erat dengan kebutuhan pemakaian bahasa. Makna denotatif ialah arti harfiah suatu kata tanpa ada satu makna yang menyertainya, sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang mempunyai tautan pikiran, perasaan, dan lain-lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain, makna denotatif adalah makna yang bersifat umum, sedangkan makna konotatif lebih bersifat pribadi dan khusus.


Kalimat di bawah ini menunjukkan hal itu.

Dia adalah wanita cantik (denotatif)

Dia adalah wanita manis (konotatif)


Kata cantik lebih umum dari pada kata manis. Kata cantik akan memberikan gambaran umum tentang seorang wanita. Akan tetapi, dalam kata manis terkandung suatu maksud yang lebih bersifat memukau perasaan kita.


Nilai kata-kata itu dapat bersifat baik dan dapat pula bersifat jelek. kata-kata yang berkonotasi jelek dapat kita sebutkan seperti kata tolol (lebih jelek daripada bodoh), mampus (lebih jelek daripada mati), dan gubuk (lebih jelek dari pada rumah), Di pihak lain, kata-kata itu dapat pula mengandung  arti kiasan yang terjadi dari makna denotatif referen lain. Makna yang dikenakan kepada kata itu dengan sendirinya akan ganda sehingga kontekslah yang lebih banyak berperan dalam hal ini.


Perhatikan kalimat di bawah ini.

Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.


Kata membanting tulang (makna denotatif adalah pekerjaan membanting sebuah tulang) mengandung makna "bekerja keras" yang merupakan sebuah kata kiasan. Kata membanting tulang dapat kita masukkan ke dalam golongan kata yang bermakna konotatif.


kata-kata yang dipakai secara kiasan pada suatu kesempatan penyampaian seperti ini disebut idiom atau ungkapan. Semua bentuk idiom atau ungkapan tergolong dalam kata bermakna konotatif. kata-kata idiom atau ungkapan yang adalah sebagai berikut:


keras kepala, 

panjang tangan, 

sakit hati, dan sebagainya.





Jumat, 21 Mei 2021

Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar

BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR

Setelah masalah baku dan nonbaku dibicarakan, perlu pula bahasa Yang baik dan yang benar dibicarakan. Penentuan  atau kriteria bahasa Indonesia yang baik dan benar itu tidak jauh berbeda dari apa yang kita katakan sebagai bahasa baku.  Kebakuan suatu kata sudah menunjukkan masalah "benar” suatu kata itu. Walaupun demikian, masalah "baik" tentu tidak sampai pada sifat kebakuan suatu kalimat, tetapi sifat efektifnya suatu kalimat.

Pengertian benar pada suatu kata atau suatu kalimat adalah pandangan yang diarahkan dari segi kaidah bahasa. Sebuah kalimat atau sebuah pembentukan kata dianggap benar apabila bentuk itu mematuhi kaidah-kaidah yang berlaktu Di bawah ini akan dipaparkan sebuah contoh.


Kuda makan rumput


Kalimat ini benar karena memenuhi kaidah sebuah kalimat secara struktur, yaitu ada subjek (kuda), ada predikat (makan),  dan ada objek (rumput). Kalimat ini juga memenuhi kaidah sebuah kalimat dari segi makna, yaitu mendukung sebuah  informasi yang dapat dimengerti oleh pembaca. Lain halnya dengan kalimat di bawah ini.


Rumput makan kuda


Kalimat ini benar menurut struktur karena ada subjek (rumput), ada predikat (makan), dan ada objek (kuda). Akan tetapi, dari segi makna, kalimat ini tidak benar karena tidak mendukung makna yang baik.

Sebuah bentuk kata dikatakan benar kalau memperlihatkan proses pembentukan yang benar menurut kaidah Yang berlaku. Kata aktifitas tidak benar penulisannya karena pemunculan kata itu tidak mengikuti kaidah penyerapan yang telah ditentukan. Pembentukan penyerapan yang benar ialah aktivitas karena diserap dari kata activity. Kata persuratan kabar dan pertanggungan jawab tidak benar karena tidak mengikuti kaidah yang berlaku. Yang benar menurut kaidah ialah kata persuratkabaran dan pertang-gungjawaban.


Pengertian "baik" pada suatu kata (bentukan) atau kalimat adalah pandangan yang diarahkan dari pilihan kata (diksi). Dalam suatu pertemuan kita dapat memakai kata Yang sesuai dengan pertemuan itu sehingga kata-kata yang keluar.


atau dituliskan itu tidak akan menimbulkan nilai rasa yang  tidak pada tempatnya, Pemilihan kata yang akan dipergunakan dalam. suatu untaian kalimat sangat berpengaruh terhadap makna kalimat yang dipaparkan itu. Pada suatu ketika kita menggunakan kata menugasi, tetapi pada waktu lain kita menggunakan kata memerintahkan, meminta bantuan, memercayakan, dan sebagainya.


Sebagai simpulan, yang dimaksud dengan bahasa yang benar adalah bahasa yang menerapkan kaidah dengan konsisten, sedangkan yang dimaksud dengan bahasa yang baik  adalah bahasa yang mempunyai nilai rasa yang tepat dan  sesuai dengan situasi pemakaiannya.

Rabu, 19 Mei 2021

Peristiwa-Peristiwa Penting Yang Berkaitan Dengan Perkembangan Bahasa Melayu/Indonesia



Peristiwa-Peristiwa Penting Yang Berkaitan Dengan Perkembangan Bahasa Melayu/Indonesia


Tahun-tahun penting yang mengandung arti sangat  mentukan dalam sejarah perkembangan bahasa Melayu/lndonesia dapat diperinci sebagai berikut.


1. Pada tahun 1901 disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A. van Ophuijsen dan dimuat dalam Kitab Logat Melayu, 


2. Pada tahun 1908 Pemerintahmendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Balai  Pustaka menerbitkan buku-buku novel, seperti Sitti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas. Kehadiran dua novel itu di masa kini di toko buku menjadi bukti bahwa bahasa Indonesia sudah ada dan sudah dipakai sebelum tahun 1928.


3. Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan saat-saat yang paling menentukan dalam perkembangan bahasa Indonesia karena pada tanggal 28 Oktober 1928 itulah para pemuda pilihan memancangkan tonggak yang kukuh untuk perjalanan bahasa Indonesia.


4. Pada tahun 1933 secara resmi berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawan.


5. Pada tanggal 25--28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Putusannya adalah bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan kita saat itu.  


6. Pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.


7. Pada tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) sebagai pengganti Ejaan van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya. 


8. Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tanggal 28 Oktober-2 November 1954 memutuskan bahwa bangsa  Indonesia bertekad untuk icrus„menerus menyempuma  kan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa  nasional dan ditetapkan sebagai bahasa negara itu.


9. Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia  yang Disempurnakan melalui pidato kenegaraan di depan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan   Presiden No. 57, tahun 1972.


10. Pada tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa   Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh Indonesia. 


11. Kongres Bahasa Indonesia III yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober -- 2 November 1978 merupakan peristiwa yang penting bagi kehidupan bahasa Indonesia. Kongres yang diadakan dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda yang kelima puluh ini,  selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga memutuskan untuk terus berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.


12. Kongres Bahasa Indonesia IV diselenggarakan di Jakarta pada 21—26 November 1983. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih diangkatkan sehingga amanat yang tercantum dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.


13. Kongres Bahasa Indonesia V juga diadakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober -- 3 November 1988. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara dan peserta tamu dari negara sahabat, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres   ini ditandai dengan dipersembahkannya karya besar  Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada  pecinta bahasa di Nusantara, yakni berupa (1) Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan (2) Tata Bahasa Baku Bahasa  Indonesia.


14. Kongres Bahasa Indonesia VI diadakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober -- 2 November 1993. Pesertanya  sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53  peserta tamu dari mancanegara (Australia, Brunei  Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga  Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang Undang Bahasa Indonesia.


15. Kongres Bahasa Indonesia VII diselenggarakan di Hotel Indonesia Jakarta pada 26—30 Oktober 1998. Kongres ini mengasulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bakasa dengan ketentuan sebagai berikut.

  1. Keanggotaannya terdiri atas tokoh masyarakat dan pakar yang mempunyai kepedulian terhadap bahasa dan sastra.
  2. Tugasnya ialah memberikan nasihat kepada Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa serta meng upayakan peningkatan status kelembagaan Pusat   Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 


16. Kongres Bahasa Indonesia VIII. Kongres ini diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 14—17 Oktober 2003.


Nah demikianlah artikel tentang Peristiwa peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan bahsa Melayu/Indonesia, mohon maaf apa bila ada kesalahan dalam penulisan atau kurang tepat yang tidak berkenan silahkan tulis kritik dan saran di kolom komentar semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi pembaca.



Salam hangat salam literasi “ADMIN”


Selasa, 18 Mei 2021

Mengapa Bahasa Melayu di Angkat Menjadi Bahasa Indonesia

Mengapa Bahasa Melayu di Angkat Menjadi Bahasa Indonesia


Mengapa Bahasa Melayu di Angkat Menjadi Bahasa Indonesia


Mengapa bahasa Melayu yang dijadikan bahasa nasional? Ada empat faktor yang menjadi penyebab bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu sebagai berikut. 


1.    Bahasa Melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan, dan bahasa perdagangan.

 

2.    Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dipelajari kara',a  dalam bahasa ini tidak dikenal tingkatan bahasa, seperă dalam bahasa Jawa (ngoko, kromo) atau perbedaan bahasa  kasar dan halus, seperti dalam bahasa Sunda (kasar, lemes).

 

3.    Suku Jawa, suku Sunda, dan suku-suku yang lain dengan sukarela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

 

4.    Bahasa Melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luase

 

Peresmian Nama Bahasa Indonesia


Bahasa Indonesia dengan perlahan-lahan, tetapi pasti, berkembang dan tumbuh terus. Pada waktu akhir-akhir ini perkembangannya itu menjadi demikian pesatnya sehingga bahasa ini telah menjelma menjadi bahasa modem, yang kaya akan kosakata dan mantap dalam struktur.



Pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda kita mengikrarkan Sumpah Pernuda. Naskah Putusan Kongres Pemuda Indonesia Tahun 1928 itu berisi tiga butir kebulatan tekad sebagai berikut :


Pertama Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah   darah yang satu, tanah Indonesia


Kedua Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.


Ketiga Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa   persatuan, bahasa Indonesia.


Pernyatan yang pertama adalah pengakuan bahwa pulau-pulau yang bertebaran dan lautan yang menghubungkan pulau-pulau yang merupakan wilayah Republik Indonesia sekarang adalah satu kesatuan tumpah darah (tempat keiahiran) yang disebut Tanah Air Indonesia. Pernyataan yang kedua adalah pengakuan bahwa manusia-manusia yang menempati burni Indonesia itu juga merupakan satu kesatuan yang disebut bangsa Indonesia. Pernyataan yang ketiga tidak merupakan pengakuan "berbahasa satu”, tetapi merupakan pernyataan tekad kebahasaan yang menyatakan bahwa kita, bangsa Indonesia, menjunjung tnggi bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia.

(Halim, 1983: 2—3).


Dengan diikrarkannya Sumpah Pemuda, resmilah bahasa Melayu, yang sudah dipakai sejak pertengahan Abad itu, menjadi bahasa Indonesia.


Sekian artikel kali ini yang membahas tentang mengapa Bahasa Melayu yang di jadikan bahasa nasional Indonesia dan peresmian Bahasa Indonesia merdasarkan sejarah


Minggu, 16 Mei 2021

Sumber Bahasa Indonesia

Sumber Bahasa Indonesia

Sumber Bahasa Indonesia

Apabila ingin membicarakan perkembangan bahasa indonesia, mau tidak mau kita harus membicarakan bahasa Melayu sebagai sumber (akar) bahasa Indonesia yang kita prgunakan sekarang. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu, yang sejak dahulu sudah dipakai sebagai bahasa perantara (lingua franca), bukan saja di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.

 

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah kapan sebenarnya bahasa Melayu mulai dipergunakan sebagai alat komunikasi. Berbagai batu bertulis (prasasti) kuno yang ditemukan, seperti

(1) Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, tahun 683,

(2) Prasasf Talang Tuo di Palembang, tahun 684,

(3) Prasasü Kota Kapur di Bangka Barat; tahun 686,dan 

(4) Prasasti Karang Brahi, Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi, tahun 688,

yang bertulis Pra-Nagari dan bahasanya bahasa Melayu Kuno, memberi petunjuk kepada kita bahwa bahasa Melayu dalam bahasa Melayu Kuno sudah dipakai sebagai alat komunikasi pada zaman Sriwijaya (Halim, 1979: 6—7). Prasasti - prasasti yang juga tertulis di dalam bahasa Melayu Kuno terdapat di Jawa Tengah (Prasasti Gandasuli, tahun 832) 'dan di Bogor (Prasasti Bogor, tahun 942). Kedua prasasti di Pulau Jawa itu memperkuat dugaan kita bahwa Bahasa Melayu Kuno pada waktu itu tidak hanya dipakai di Pulau Jawa.

Berikut ini di kutipkan sebagian bunyi batu bertulis (Prasasti) Kedua bukit.

Swastie syrie syaka warsaatieta 605 ekadasyii syuklapaksa wulan waisyaakha dapunta hyang naayik di saamwan manglap siddhayarta di saptamie syuklapaksa wulan jyestha dapunta hyang marlapas dari minanga taamwan ….

(Selamat! Pada tahun syaka 605 hari kesebelas pada waktu terang bulan Waisyaakha, tuan kita yang mulia naik di perah menjemput Siddhayaatra. Pada hari ketujuh pada masa terang bulan Jyestha, tuan kita yang mulia erlepas dari Minanga Taamwan ….)

Kalau kita perhatikan dengan seksama, ternyata prasasti itu memiliki kata kata (di cetak dengan huruf miring) yang masih kita kenal sekarang walaupun waktu sudah berlalu lebih dari 1.400 tahun.

Berdasarkan petunjuk petunjuk lainya, dapatlah kita kemukakan bahwa pada zaman Sriwijaya Bahasa Melayu berfungsi sebagai berikut.

1.   Bahasa Melayu berfungsi sebagai Bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisi aturan-aturan hidup dan sastra.

2.   Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) antar suku di Indonesia

3.   Bahasa melayu berfungsi sebagai bahasa perdaganga terutama di sepanjang pantai, baik suku yang ada di Indonesia maupun bagi pedagang-pedagang yang datang dari luar Indonesia.

4.   Bahasa melayu berfungsi sebagai Bahasa resmi kerajaan.

cukup sekian artikel dari saya semoga bermanfaat